This is default featured post 1 title

Aku disini...

This is default featured post 2 title

adalah blog probadi tempat belajar dan berbagi...

This is default featured post 3 title

Belajar tentang kehidupan untuk menghidupkan hidup

This is default featured post 4 title

Berbagi pengetahuan dan pengalaman supaya lebih mengenal alam kehidupan

This is default featured post 5 title

Melalui goresan sketsa hati dan elegi diri terhadap stagnansi bahkan reformasi diri dan pemikiran

Showing posts with label My Views. Show all posts
Showing posts with label My Views. Show all posts

Monday, March 14, 2011

Berkarya lewat Tulisan!


Setiap kali kita bicara masalah tulis- menulis, sebagian besar orang beranggapan bahwa kegiatan menulis dan menghasilkan karya lebih cenderung ke hal- hal yang berbau karya sastra saja, sebagai contoh puisi, cerita pendek, maupun novel. Memang benar, 3 karya tersebut yang sering diminati dan dikuasai oleh para penulis tetapi bukan berarti kegiatan menulis (baca: berkarya lewat tulisan) hanya dalam batas koridor itu saja. Cakupan berkarya lewat tulisan sangatlah luas. Seorang cerpenis akan berkarya dengan cerpen- cerpen buah karyanya, seorang pujangga akan menelurkan puisi- puisi dalam antologi puisinya, begitu pula dengan seorang novelis. Apakah hanya mereka yang bisa berkarya lewat tulisan? Apakah hanya para cerpenis, novelis, pujangga yang bisa membuat buku?

Tentu saja tidak! Siapa pun orangnya, dengan latar belakang pendidikan dan pengetahuan apapun bisa menjadi seorang penulis. Tak peduli setinggi apa jabatannya, serendah apa jenjang pendidikannya. Seorang guru Biologi, dia bisa menulis tentang hal- hal sesuai keahliannya dalam botani dalam sebuah Buku Pintar Botanical misalnya. Seorang ahli komputer bisa menulis tentang handbook Operasional Linux misalnya. Bahkan seorang blogger sejati sepertimu pun bisa menulis buku tentang blogging (dunia blog). Sekali lagi, siapa pun bisa menjadi penulis. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk mulai menuliskan apa saja yang ingin dia tulis, dia bagi kepada yang lain tentang hal yang bermanfaat. Jadi, mulailah menulis dari sekarang!

Tulislah semua hal yang engkau rasa dan engkau ingin ceritakan kepada yang lain, hingga pemikiran kritismu akan hal- hal disekitarmu. Tulis dan publikasikanlah! Siapa yang tahu jika hal itu sangat bermanfaat bagi yang lain? jika engkau hanya menyimpannya sendiri sebagai catatan pribadimu. Kemana aku kirimkan tulisanku (baca: karyaku) ? Tentu hal ini tergantung jenis tulisanmu, dan genre yang cocok dengan media yang kamu tuju. Jika tulisanmu berupa opini yang relevan dengan keadaan terkini, kamu bisa bisa mengirimkan artikel tulisanmu ke media cetak dibawah ni:

Kompas
: opini@kompas.co.id

Kompas termasuk media yang memiliki begitu banyak rubric untuk masyarakat. Selain opini, ada rubric lain yang bisa dicoba seperti Teroka dan Teropong. Bedanya, jika rubric opini muncul setiap hari, rubric-rubrik lain ada yang tiap satu atau dua minggu. Honor di Kompas konon rata-rata di atas satu juta.

Jawa Pos (www.jawapos.com)

Ada beberapa rubric yang bisa dicoba: “opini”, “ruang putih”, “di balik buku”, “cerpen”, “puisi” dsb..

Alamat email : opini@jawapos.co.id, sebutkan rubric yang dituju pada subyek email.

Untuk Kolom Esai Budaya, Cerpen, Resensi Buku dan Dibalik Buku: ariemetro@yahoo.com. (Untuk resensi buku, bisa dikirim yang panjang tulisannya sampai 800 kata)

Seputar Indonesia (www.seputar-indonesia.com)

Alamat : redaksi@seputar-indonesia.com. Ada Opini (muncul setiap hari), Kolom Budaya, Resensi, Puisi, Cerpen (ada di hari Minggu saja). Kita tinggal menulis saja mau dimuat di kolom apa pada subject email pas kirim tulisan.

Lampung Post (www.lampungpost.com):

Untuk Kolom Opini: redaksi@lampungpost.co.idà ini imel utama

opinilampost@yahoo.co.id

redaksilampost@yahoo.com

Untuk Esai Budaya/Sastra dan Puisi: lampostminggu@yahoo.com, halaman opini@yahoo.com


Media Indonesia (www.media-indonesia.com):

Untuk Kolom Opini dan Resensi Buku : redaksi@mediaindonesia.co.id

opinimi@yahoo.com

(Panjang resensi buku maximal 800 kata. Begitu juga dengan Opini. Saat kirim lebih baik semua imel dikirimi. Nama Kolom Resensi Buku-nya: Bedah Pustaka)

Bisnis Indonesia: redaksi@bisnis.co.id

(Biasanya tulisan yang nyerempet soal bisnis dan ekonomi)

Pikiran Rakyat (www.pikiran-rakyat.com) (Jawa Barat):

Untuk Kolom Opini: opini@pikiran-rakyat.com à panjang tulisan maximal 6000 karakter dengan spasi. Untuk Esai Sastra, Cerpen dan Puisi: khazanah@pikiran-rakyat.com à ada di hari Sabtu

Untuk Resensi Buku: kampus_pr@yahoo.com ada cuma hari kamis (panjang tulisan 4000 karakter dengan spasi)

Koran Tempo (www.korantempo.com):

Untuk Kolom Opini: koran@tempo.co.id

Untuk Resensi Buku, Esai Sastra dan Puisi: ktminggu@tempo.co.id

Satu bulan sekali ada Suplemen Ruang Baca.

Republika (www.republika.co.id): sekretariat@republika.co.id à ini buat Kolom Opini.

Kalo kirim cerpen dan puisi, selain kirim ke imel itu, kirim juga ke: ahmadun21@yahoo.com

Suara Karya (www.suarakarya-online.com):

redaksisk@yahoo.com

Ada Kolom Opini. Cerpen dan Puisi hari Sabtu.

Suara Pembaruan (www.suarapembaruan.com):

koransp@suarapembaruan.com

semua jenis tulisan dikirim ke imel itu. Ada Kolom Opini, Resensi Buku, Puisi dan Cerpen

Koran Jakarta (www.koran-jakarta.com) :

redaksi@koran-jakarta.com

(Setiap hari ada Kolom Opini (namanya Gagasan) dan resensi buku (Perada). Kalau mau dimuat, biasanya ditelfon terlebih dahulu.

Suara Merdeka (www.suaramerdeka.com): naskah@suaramerdeka.info dan wacana@gmail.com.

Ini koran Jawa Tengah, InsyaAllah bisa dicoba oleh penulis lain dari luar daerah.

Catatan Tambahan :

1. Untuk Rubrik Opini, secara umum tulisan berkisar 700-850 kata.

2. Tulisan bisa dimuat satu hari setelah kirim, satu minggu, dua minggu atau bahkan dua bulan setelah kirim, umumnya juga tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

3. Selain actual, kenali karakter media dengan sering mengunjungi webnya masing-masing.


Lalu bagaimana jika tulisanku ditolak media? Aku tidak tahu- menahu tentang tata bahasa Indonesia yang benar!
Buang jauh- jauh segala ragu yang mencekal kakimu untuk melangkah. Penulis itu pantang menyerah! Coba kalian baca tulisanku di artikel sebelumnya disini. Bukankah kita tidak pernah dirugikan ketika tulisan kita ditolak atau tidak dimuat. Toh, masih banyak media yang bisa kita gunakan untuk mempublikasikan tulisan kita, sebagai contoh blog pribadi, milis, forum, majalah dinding sekolah dan lain sebagainya. Niat pertama yang harus ditanamkan saat kita hendak menulis adalah membagi hal yang bermanfaat kepada yang lain. Sehingga, tatkala tulisan kita ditolak, rasa kecewa kita segera terobati. Bukankah karya tersebut masih bisa kita publish di blog, milis, majalah dinding kelas/sekolah yang tidak begitu menggubris masalah tata bahasa Indonesia...pesan dibalik tulisan kita pun tetap tersampaikan pada orang lain. Mempublikasikan tulisan kita-bahkan tiap tulisan kita yang telah ditolak penerbit sekalipun- dalam blog, milis, dan forum sangat bermanfaat bagi kita mapun orang lain lho.

Bagi penulis, ketika tulisannya bisa dibaca oleh netter (pengguna internet) yang lain, bukan tidak mungkin akan menuai kritik dan masukan yang bisa digunakan sebagai bahan revisi karyanya berikutnya. Penulis juga bisa tahu nilai jual tulisannya (dilihat dari respon positif pembaca) ,sejauh mana relevansi pemikirannya dengan keadaan sekitarnya dan lain sebagainya.

Bagi orang lain (baca:pembaca), tulisan tersebut akan memberi manfaat atau faedah baginya. Apabila tulisan tersebut berupa ilmu praktis, tentu dapat segera dipraktekan oleh pembaca. Apabila berupa karya sastra yang mengandung pesan moriil, maka pembaca bisa mendulang hikmah dari tulisan tersebut. Dari sinilah tujuan utama berkarya lewat tulisan tercapai. Faedah dan manfaat tulisan kita bisa tersampaikan pada khalayak ramai. Bahkan dakwah Islam pun bisa pula terjembatani lewat tulisan ilmiah.

Ayo berkarya lewat tulisan...^^


- Ian Puspita -

Diperbolehkan menyebarkan catatan ini kepada rekan- rekan yang lain dengan tetap mencantumkan nama penulis asli, Ian Puspita dan blog sumber http://ianpuspita.blogspot.com

Penulis itu Pantang Menyerah


Seorang penulis tentu haruslah berjiwa besar, tidak boleh pantang menyerah lantaran tulisannya di reject (ditolak) oleh sebuah penerbitan. Betapa tidak, bagi yang menjadikan kegiatan tulis- menulis tersebut sebagai sumber penghasilan, tentu dia harus terus berkarya demi lubung kelurga. Sedangkan bagi yang menulis lantaran hobby, dia kan terasa mati kala harus berhenti. Karena menulis sudah menjadi suatu kesenangan jiwa, kepuasan batin baginya.

Banyak faktor yang membuat suatu tulisan (baca: karya), ditolak oleh suatu penerbit. Faktor- faktor tersebut juga saling bertautan, tidak berdiri sendiri. Bisa jadi tulisanmu ditolak karena memang kontennya yang kurang digarap serius, terlalu monoton, kurang inspiratif, atau justru tidak sesuai dengan genre dari penerbitan tersebut lho. Lalu, bagaimana caranya kita tahu sejauh mana atau se-qualified apa tulisan kita? Kita tidak pernah tahu hal tersebut, jika tulisan kita hanya kita konsumsi sendiri. Jadi, buruan kirim naskahmu ke penerbit maupun media cetak manapun! Bagus lagi jika kamu mengirimkannya ke sebuah penerbitan atau media cetak yang juga mau memberikan sekelumit masukan sebagai bahan revisi naskahmu.

Beberapa bulan yang lalu, ada sebuah penerbitan indie yang mengadakan lomba menulis kisah berdasarkan kisah nyata tentang pengalaman dengan dunia ghoib. Seruuu baget kan?! Tanpa berpikir panjang, segera aku tuangkan pengalamanku dalam sebuah naskah cerita dan ku kirimkan segera. Apalah daya, ternyata naskahku belum nyangkut sebagai juara. Aku penasaran, bagian manakah yang kurang...rasanya sudah perfect. Aku langsung browsing ke web publishing tersebut untuk mencari tahu. Akhirnya, aku menemukan artikel tentang komentar panitia pada lomba kepenulisan yang lalu. Beberapa naskah yang tidak lolos dalam sesi lomba sebelumnya dikarenakan gaya cerita yang terkesan seperti cerpen (cerita pendek) atau bahkan cerbung (cerita bersambung). Aku pun langung paham, kenapa naskahku belum lolos. Naskah yang aku kirimkan memang bercerita bergaya cerita pendek. Tentu saja tidak masuk kriteria panitia. Apakah setelah itu aku menyerah dan melempar naskahku ke recycle bin? No way! Penulis itu pantang menyerah.

Naskah true story yang lebih cocok dikategorikan cerpen tersebut, akhirnya benar- benar total aku ubah menjadi cerpen (tentu tetap menjaga orisinilitas cerita nyata tersebut) dan aku kirimkan ke sebuah situs remaja. Tahukah kalian apa hasilnya? Yep! Si naskah di reject alias ditolak pula...Hehehe. Kasihan banget yak! Sekali lagi, penulis itu pantang menyerah. Aku pun berusaha untuk merevisi naskah tersebut. Tapi bagian mana ya yang harus direvisi? Alhamdulillah, situs itu memberikan koreksi untuk naskah reject tersebut. Bagaimana komentar mereka terhadap naskahku tersebut, silahkan baca disini!

Setelah mencermati dan membacanya...aku mulai mengendapkan tiap masukan ke dalam hati. Saatnya menguras otak kembali, membenahi pernak- pernik naskah yang harus direvisi hingga siap dikirim lagi. Karena menulis adalah proses pembelajaran. Tiap hari kita belajar dari tulisan kita sendiri serta tulisan orang lain. Tidak percaya? Coba saja kamu tulis perasaanmu saat marah dalam buku harian, lalu baca kembali tulisan- tulisan tersebut ketika amarahmu telah mereda dan masalah telah selesai. Kamu akan tahu bagaimana kharaktermu lewat tulisanmu! Kamu juga belajar memetik hikmah dari tiap peristiwa yang kau tulis.

Tiap hari belajar menulis...tiap hari belajar dari tulisan

-Ian Puspita-


Diperbolehkan menyebarkan catatan ini kepada rekan- rekan yang lain dengan tetap mencantumkan nama penulis asli, Ian Puspita dan blog sumber http://ianpuspita.blogspot.com



Wednesday, March 2, 2011

Aku dan Tulisanku

Salah satu judul puisiku dalam antology puisi yang insya allah akan publish adalah “Aku dan Tulisanku”. Puisi ini mewakili jeritan hatiku sebagai penulis dan juga lukisan abstraksi bagi penulis lain pada umumnya. Seorang penulis dengan tulisannya (baca:karyanya) sungguh tak terpisahkan. Tulisan itu bisa jadi merupakan bias jiwa, percikan rasa, dan lengkingan hati. Disanalah jiwa seorang penulis terasa getarannya.

Manusia akan mati, jemari berhenti menari, jiwa akan pergi tapi sebuah tulisan akan lekat di hati. Dia akan tetap ada meski sang penulis telah tiada. Dia akan bersuara, kala sang penulis sudah tak mampu bersuara. Dia akan menjerit, meski sang penulis kini berada di liang kubur nan sempit.

Bila harimau mati meninggalkan belang...

Maka seorang penulis bila dia mati, dia akan meninggalkan tulisannya (baca:karyanya)

Aku adalah Penulis

dan aku tidak akan berhenti menulis....(insya Allah)

-Ian Puspita-

Diperbolehkan menyebarkan catatan ini kepada rekan- rekan yang lain dengan tetap mencantumkan nama penulis asli, Ian Puspita dari blog sumber http://dianpuspita.dagdigdug.com atau http://ianpuspita.blogspot.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More